Alkisah, di Iran hidup sebuah keluarga miskin dengan dua orang anak. Kakaknya laki-laki sangat sayang kepada adiknya yang perempuan. Mereka tetap sekolah meskipun fasilitas yang mereka miliki terbatas. Kakaknya sekolah pagi hari sedangkan adiknya sekolah siang hari.Suatu hari, sepatu sang adik dijemur karena basah. Tapi ketika akan dipakai sepatu itu telah hilang dari tempat jemurnya. Wah tentu saja si adik sangat sedih. Kakaknya pun tidak ingin melihat adiknya sedih. Kalau mau beli yang baru tentu tidak mungkin karena orang tua mereka miskin.
Akhirnya kakak beradik ini pergi mencari sepatu yang hilang tersebut. Setelah dicari-cari sepatu itu ternyata ditemukan! Tapi sayang sepatu itu ditemukan telah dipakai oleh anak yang jauh lebih miskin lagi daripada keluarga mereka. Mereka merasa tidak tega untuk mengambil kembali sepatu itu.
Setelah kejadian itu, maka kakak dan adik ini bergantian memakai sepatu ke sekolah. Karena si kakak sekolah pagi, maka dia akan pulang cepat-cepat ke rumah agar adiknya bisa memakai sepatunya dan tidak terlambat ke sekolah. Segera setelah lonceng sekolah usai berbunyi, si kakak akan berlari sekencang-kencangnya ke rumah.
Suatu hari, di sekolah diumumkan akan diadakan perlombaan lari antar sekolah. Si kakak melihat salah satu hadiahnya adalah sepatu. Wah ini adalah sebuah kesempatan yang bagus untuk memberikan adiknya sepatu yang baru. Kemudian dia mendaftar ke guru olahraga agar menjadi perwakilan sekolah.
Tapi dia terlambat, pendaftaran sudah ditutup dan kawan-kawannya sudah diuji kecepatan berlarinya. Dia memohon kepada gurunya agar diikutsertakan karena ini adalah satu-satunya kesempatan untuk bisa mendapatkan sepatu tanpa keluar uang. Si guru akhirnya mengalah dan memberikan kesempatan si kakak untuk berlari. Ternyata setelah diuji, lari si kakak adalah yang paling cepat diantara murid-murid sekolah itu. Akhirnya dia dijadikan utusan untuk mengikuti lomba.
Ketika lomba dimulai, si kakak tidak mau menjadi nomor satu. Dia hanya ingin menjadi juara dua yang akan mendapatkan hadiah sepatu. Juara satu, tidak mendapatkan sepatu tapi hadiah yang lain. Setiap kali dia menjadi yang pertama, dia akan melambatkan larinya dan membiarkan satu orang lawan di depannya.
Menjelang garis akhir, si kakak sudah senang karena dia akan menjadi juara dua. Tapi tiba-tiba dia terjatuh! Dia terlewati oleh beberapa orang lain. Wah si kakak ngga mau kalah. Dia bangkit dan berlari sekencang-kencangnya. Karena sudah terlatih berlari kencang setiap hari, maka dia pun berhasil melewati lawan-lawannya.
Tapi ternyata dia menjadi juara satu. Padahal yang dia incar adalah juara dua. Meskipun kawan-kawan dan gurunya senang dia menang, dia tetap sedih karena tidak bisa memberikan hadiah sepatu baru untuk adiknya.
Menurutku film ini sangat bagus karena mengajarkan beberapa nilai luhur kepadaku. Yang pertama adalah empathy. Ketika melihat sepatunya dipakai oleh keluarga yang lebih miskin mereka tidak memaksa mengambil sepatunya itu kembali. Koq ya anak kecil bisa seperti itu? Kalau aku mungkin ngga mau barangku diambil oleh siapapun. Apalagi barang yang masih aku pakai. Biasanya yang aku kasihkan ke orang lain ya barang bekas yang sudah tidak aku pakai lagi.
Yang kedua adalah tahu tujuan hidup dan mau memperjuangkannya. Si kakak tahu dia ingin mendapatkan sepatu baru untuk adiknya. Tetapi ketika ada halangan yang bisa membuat dia tidak bisa berjuang untuk mendapatkan sepatu itu dia memperjuangkannya sekuat tenaga.
Yang ketiga, konsisten. Meskipun dia menjadi juara satu tidak merasa bahagia karena bukan juara satu yang menjadi tujuannya. Kalo aku pingin sesuatu dan ternyata dapat yang lebih besar atau lebih baik, tentu aku sangat bahagia. Mungkin tujuanku hanya sekedar menjadi juara tanpa pernah memikirkan apa yang ada dibalik juaranya. Tidak ada niatan lain seperti misalnya ingin melalui proses mendapatkan yang kecil dulu sebelum mendapatkan yang besar sehingga bisa memanage nya dengan baik.
Aah, memang masih banyak yang harus ku pelajari, bahkan dari anak kecil sekalipun.
Aah akhirnya nulis lagi setelah hampir dua minggu vakum.
Alhamdulillah...